Pages

Thursday, November 13, 2014

[Book Review #30] Cinta. (baca: Cinta dengan Titik)



Penulis: Bernard Batubara
Penerbit: Bukune, cetakan pertama 2013
ISBN: 6022201090
Rating: 4/5 

Mengapa cinta membuaku mencintaimu, ketika pada saat yang sama kau mencintai orang yang bukan aku?
Ketika telah  membuka hati, aku pun harus bersiap untuk kehilangan lagi. apakah setelah cinta memang harus selalu ada air mata dan luka hati?
Kalau begitu, bagaimana jika kita bicarakan satu hal saja.
Cinta.
Tanpa ada yang lain setelahnya. Kita lihat ke mana arahnya bermuara.

***

Novel ini bercerita menganai Nessa, gadis yang selalu membenci orang ketiga dalam sebuah hubungan setelah Ibunya meninggalkan Ayah dan dirinya demi laki-laki yang lebih dicintai ibunya. Hal ini  yang membuat Nessa membenci perselingkuhan. Namun akhirnya kini ia terjebak dan menjadi orang ketiga setelah bertemu dengan Demas. Walaupun begitu Nessa tak bisa mengabaikan kenyataan bahwa ia mencintai Demas, lelaki yang telah memiliki tunangan.


Mengapa cinta membuatku mencintaimu ketika pada saat yang sama kau mencintai orang yang bukan aku? - halaman 163

Nessa membenci dirinya sendiri dan rasa bersalah kini menyelimutinya. Apalagi setiap kali ia mengingat bahwa keluarganya hancur karena orang ketiga. Orang yang telah membuat ibunya pergi meninggalkan keluarga kecil mereka. Saat membicarakan cinta, hati dan logika memang tak sejalan layaknya kutub magnet yang saling menolak. Kini posisinya sebagai orang ketiga harus membuat Nessa kehilangan sahabat. Belum lagi tatapan kecewa ayahnya. Kekecewaan yang terpancar jelas di manik mata seseorang yang sangat berharga untuknya, seolah ada gada yang menghantam hatinya. Membuatnya harus segera memutuskan sesuatu, cepat atau lambat.

Terkadang, tidak ada pilihan lain untuk menghindar dari rindu yang menyakitkan, selain menjauh dan perlahan melupakan. - halaman 163

Bernard Batubara. Saya rasa nama ini sudah tak asing bagi sebagian orang. Saya mengenalnya melalui puisi-puisi karyanya, lalu berlanjut menjadi stalker akun twitter miliknya hehe dan rajin mengikuti tweet-tweet darinya.

Bang Ben sangat lihai memainkan kata-kata yang dipilihnya. Bukan hanya pada puisi, dalam setiap tulisannya pun ia selalu terasa puitis. Seperti kata-kata dalam Milana, kumcer miliknya, pun terasa sangat puitis untuk ukuran sebuah cerpen. Dan hal itu kembali terasa dalam novelnya ini. Selain kata-kata yang puitis, juga terdapat beberapa cuplikan puisi, baik karyanya sendiri atau pun puisi dari sastrawan lain. Pemilihan kata-kata, kelihaian bang Ben dalam memainkan kata, serta penyusunannya sudah tak dapat diragukan lagi. Semuanya terasa begitu mengalir dan puitis. Tapi puitis di sini tidak terasa berlebihan dan lebay.

Tapi saya kurang menikmati cerita dalam novel ini. Entah kenapa, saya merasa karakter tokoh-tokoh utama dalam novel ini kurang terlalu kuat. Tentang sosok Nessa dan semua sikapnya. Mungkin bang Ben bermaksud untuk menunjukkan pergolakan batin yang terjadi pada Nessa, namun yang saya dapatkan malah Nessa seperti terlalu plin-plan dan setengah-setengah. Selain itu Demas, sebagai seorang laki-laki saya rasa dia terlalu plin-plan =.= Malahan tokoh-tokoh pembantunya malah terasa lebih kuat.

Mengenai tema yang diangkat saya rasa tidak ada yang baru, hanya saja kepiawaian bang Ben dalam meramu kata membuat novel ini tetap enak untuk dinikmati. Daaaaan covernyan keren kaaaan?

4 bintang untuk novel inii!!!

Ah, dan saya jadi teringat kalimat di salah satu bukunya dee "Bila engkau ingin satu, maka jangan dua. Karena satu menggenapkan, tapi dua melenyapkan"- Filosofi Kopi, hlm 31

No comments:

Post a Comment