Pages

Showing posts with label bukune. Show all posts
Showing posts with label bukune. Show all posts

Thursday, November 13, 2014

[Book Review #30] Cinta. (baca: Cinta dengan Titik)



Penulis: Bernard Batubara
Penerbit: Bukune, cetakan pertama 2013
ISBN: 6022201090
Rating: 4/5 

Mengapa cinta membuaku mencintaimu, ketika pada saat yang sama kau mencintai orang yang bukan aku?
Ketika telah  membuka hati, aku pun harus bersiap untuk kehilangan lagi. apakah setelah cinta memang harus selalu ada air mata dan luka hati?
Kalau begitu, bagaimana jika kita bicarakan satu hal saja.
Cinta.
Tanpa ada yang lain setelahnya. Kita lihat ke mana arahnya bermuara.

***

Novel ini bercerita menganai Nessa, gadis yang selalu membenci orang ketiga dalam sebuah hubungan setelah Ibunya meninggalkan Ayah dan dirinya demi laki-laki yang lebih dicintai ibunya. Hal ini  yang membuat Nessa membenci perselingkuhan. Namun akhirnya kini ia terjebak dan menjadi orang ketiga setelah bertemu dengan Demas. Walaupun begitu Nessa tak bisa mengabaikan kenyataan bahwa ia mencintai Demas, lelaki yang telah memiliki tunangan.

Sunday, August 31, 2014

[Book Review #28] Barcelona Te Amo


Penulis: Kireina Enno
Penerbit: Bukune
Tebal: 266 Halaman
ISBN: 602-220-090-3
Rating: 3,5/5

Tadinya, musim panas selalu muram.
Lalu, dia datang dengan senyumnya yang indah.
ketika waktu mendamba detik-detik yang hangat dari matanya. Entah bagaimana, hati Katya begitu dingin ketika menepis uluran tangan dari laki-laki itu.

Kesepian pun menghantamnya.
Sepanjang La Rambla, angin menepi.
Sayap-sayapnya membawa Katya menari di antara pilar-pilar Gothic Quarter yang sunyi.
Membangkitkan rindu kepadanya,
seperti ombak kepada pantai yang menunggu.

Maka, di sinilah Katya berada kini.
Menyambut genggaman tangannya.
Di Place de Catalunya, tempat merpati bercengkerama.
Ketika matahari menyinari Barcelona.
Dia bagai musim panas yang begitu indah.

"Te amo," pelan ucap Katya. Akankah dia dengar?

Te amo siempre,

Kireina Enno

***

Katya, gadis yatim piatu yang diasuh oleh pamannya. Ia dan sepupunya, Sandra, memiliki teman sejak kecil bernama Evan. Mereka selalu bertiga kemana pun mereka pergi. Katya dan Sandra memiliki sifat yang sangat bertolak belakang. Katya yang pendiam dan penurut, sedangkan Sandra yang manja dan tidak bertanggungjawab. Walaupun Katya selalu melindunginya, dan Evan selalu ada untuk mengurus keonaran yang diperbuat oleh Sandra, tapi tetap saja gadis itu merasa iri pada Katya yang lebih disayang oleh semua orang. Karena rasa irinya itulah Sandra selalu berusaha merusak hal apa pun yang disenangi Katya. Apalagi saat Evan lebih memilik Katya daripada dirinya.

[Book Review #27] Holland: One Fine Day in Leiden


Penulis: Feba Sukmana
Penerbit: Bukune
Tebal: 292 halaman
ISBN: 602 – 220 – 116 – 0
Rating: 4/5

Sejak menjejakkan kaki di Bandara Schiphol, Belanda, dan udara dingin menyambutnya, Kara tak lagi merasa asing. Mungkin, karena ia pun telah lama lupa dengan hangat. 

Belasan ribu kilometer dari orang-orang tercinta, ia berharap bisa bersembunyi. Dari masa lalu, luka, dan cinta. Nyatanya, semua itu harus ia temukan lagi dalam kotak tua yang teronggok di sudut kamarnya. Kini, Kara tahu:                                                                                                                                
Ibu yang pergi, Kara yang mencari. Tak ada waktu untuk cinta. 

Namun, kala senja membingkai Leiden dengan jingga yang memerah, Kara masih ingat bisik manis laki-laki bermata pirus itu, “Ik vind je leuk”–aku suka kamu. Juga kecup hangatnya. Rasa takut mengepung Kara, takut jatuh cinta kepada seseorang yang akhirnya akan pergi begitu saja. Dan, meninggalkan perih yang tak tersembuhkan waktu. Seperti Ibu.
 
Aku tidak berada di sini untuk jatuh cinta, ulangnya dalam hati, mengingatkan diri sendiri. 

Di sudut-sudut Leiden, Den Haag, Rotterdam, dan Amsterdam yang menyuguhkan banyak cerita, Kara mempertanyakan masa lalu, harapan, masa depan, juga cinta. Ke manakah ia melangkah, sementara rintik hujan merinai di kanal-kanal dan menghunjam di jantung kota-kota Negeri Kincir Angin yang memesona?
Alles komt goed–Semua akan baik-baik saja, Kara, 

Feba Sukmana
***
Kara Sastrowidjojo, seorang gadis Indonesia yang kuliah di Universitas Leiden, Belanda. Kara tiba saat musim panas sedang berlangsung, ia disambut oleh pemandangan kota Leiden yang indah. Kadang, Kara merasan kepergiannya ke Belanda bukan murni untuk menuntut ilmu, tapi ada alasan lain yang membuat dirinya bertanya-tanya sendiri. Apakah kepergiannya ke Belanda untuk mencari penoreh ruang kosong di hatinya, atau berusaha melarikan diri dari luka yang selama ini mengendap di hatinya.