Pages

Sunday, August 31, 2014

[Book Review #28] Barcelona Te Amo


Penulis: Kireina Enno
Penerbit: Bukune
Tebal: 266 Halaman
ISBN: 602-220-090-3
Rating: 3,5/5

Tadinya, musim panas selalu muram.
Lalu, dia datang dengan senyumnya yang indah.
ketika waktu mendamba detik-detik yang hangat dari matanya. Entah bagaimana, hati Katya begitu dingin ketika menepis uluran tangan dari laki-laki itu.

Kesepian pun menghantamnya.
Sepanjang La Rambla, angin menepi.
Sayap-sayapnya membawa Katya menari di antara pilar-pilar Gothic Quarter yang sunyi.
Membangkitkan rindu kepadanya,
seperti ombak kepada pantai yang menunggu.

Maka, di sinilah Katya berada kini.
Menyambut genggaman tangannya.
Di Place de Catalunya, tempat merpati bercengkerama.
Ketika matahari menyinari Barcelona.
Dia bagai musim panas yang begitu indah.

"Te amo," pelan ucap Katya. Akankah dia dengar?

Te amo siempre,

Kireina Enno

***

Katya, gadis yatim piatu yang diasuh oleh pamannya. Ia dan sepupunya, Sandra, memiliki teman sejak kecil bernama Evan. Mereka selalu bertiga kemana pun mereka pergi. Katya dan Sandra memiliki sifat yang sangat bertolak belakang. Katya yang pendiam dan penurut, sedangkan Sandra yang manja dan tidak bertanggungjawab. Walaupun Katya selalu melindunginya, dan Evan selalu ada untuk mengurus keonaran yang diperbuat oleh Sandra, tapi tetap saja gadis itu merasa iri pada Katya yang lebih disayang oleh semua orang. Karena rasa irinya itulah Sandra selalu berusaha merusak hal apa pun yang disenangi Katya. Apalagi saat Evan lebih memilik Katya daripada dirinya.

[Book Review #27] Holland: One Fine Day in Leiden


Penulis: Feba Sukmana
Penerbit: Bukune
Tebal: 292 halaman
ISBN: 602 – 220 – 116 – 0
Rating: 4/5

Sejak menjejakkan kaki di Bandara Schiphol, Belanda, dan udara dingin menyambutnya, Kara tak lagi merasa asing. Mungkin, karena ia pun telah lama lupa dengan hangat. 

Belasan ribu kilometer dari orang-orang tercinta, ia berharap bisa bersembunyi. Dari masa lalu, luka, dan cinta. Nyatanya, semua itu harus ia temukan lagi dalam kotak tua yang teronggok di sudut kamarnya. Kini, Kara tahu:                                                                                                                                
Ibu yang pergi, Kara yang mencari. Tak ada waktu untuk cinta. 

Namun, kala senja membingkai Leiden dengan jingga yang memerah, Kara masih ingat bisik manis laki-laki bermata pirus itu, “Ik vind je leuk”–aku suka kamu. Juga kecup hangatnya. Rasa takut mengepung Kara, takut jatuh cinta kepada seseorang yang akhirnya akan pergi begitu saja. Dan, meninggalkan perih yang tak tersembuhkan waktu. Seperti Ibu.
 
Aku tidak berada di sini untuk jatuh cinta, ulangnya dalam hati, mengingatkan diri sendiri. 

Di sudut-sudut Leiden, Den Haag, Rotterdam, dan Amsterdam yang menyuguhkan banyak cerita, Kara mempertanyakan masa lalu, harapan, masa depan, juga cinta. Ke manakah ia melangkah, sementara rintik hujan merinai di kanal-kanal dan menghunjam di jantung kota-kota Negeri Kincir Angin yang memesona?
Alles komt goed–Semua akan baik-baik saja, Kara, 

Feba Sukmana
***
Kara Sastrowidjojo, seorang gadis Indonesia yang kuliah di Universitas Leiden, Belanda. Kara tiba saat musim panas sedang berlangsung, ia disambut oleh pemandangan kota Leiden yang indah. Kadang, Kara merasan kepergiannya ke Belanda bukan murni untuk menuntut ilmu, tapi ada alasan lain yang membuat dirinya bertanya-tanya sendiri. Apakah kepergiannya ke Belanda untuk mencari penoreh ruang kosong di hatinya, atau berusaha melarikan diri dari luka yang selama ini mengendap di hatinya. 

Friday, August 29, 2014

[Book Review #26] Interlude: Selalu Ada Jeda Untuk Bahagia

 
Penulis: Windry Ramadhina
Penerbit: GagasMedia, Cetakan Pertama, 2014
Tebal: 372 halaman
ISBN (10): 979–780–722–3
Harga: Rp 58.000,-
Rating: 5/5
Hanna,
listen.
Don’t cry, don’t cry.
The world is envy.
You’re too perfect
and she hates it.

Aku tahu kau menyembunyikan luka di senyummu yang retak.       
      Kemarilah, aku akan menjagamu,  
asalkan kau mau mengulurkan tanganmu.

“Waktu tidak berputar ulang. Apa yang sudah hilang, tidak akan kembali. Dan, aku sudah hilang.”             Aku ingat kata-katamu itu, masih terpatri di benakku.

Aku tidak selamanya berengsek. 
 Bisakah kau memercayaiku, sekali lagi?
Kilat rasa tak percaya dalam matamu, 
 membuatku tiba-tiba meragukan diriku sendiri.
Tapi, sungguh, aku mencintaimu, 
 merindukan manis bibirmu.

Apa lagi yang harus kulakukan agar kau percaya? 
 Kenapa masih saja senyum retakmu yang kudapati?

Hanna, kau dengarkah suara itu? 
 Hatiku baru saja patah…

***

Hanna, seorang mahasiswa jurnalistik yang kini selalu terlihat gugup dan ketakutan setiap kali bertemu dengan laki-laki. Itu semua karena trauma yang dimilikinya, trauma yang membuatnya selama satu tahun belakangan ini selalu mengunjungi Miss Lorraine–terapis Hanna. 

Akibat kejadian pahit yang dialaminya, Hanna mengambil cuti kuliah selama setahun dan kembali tinggal bersama orangtuanya. Membuatnya semakin menarik diri dari dunia luar, bahkan membuat jarak dengan ibunya. Hanna tidak membenci ibunya, dia hanya tidak tahan menghadapi kekhawatiran ibunya. Karena itu, Hanna memutuskan untuk kembali indekos di tempatnya yang dulu, dan memutuskan untuk kembali masuk kuliah setelah menguatkan hatinya untuk menghadapi teman-teman satu kampusnya.

Sekuat apapun Hanna berusaha menguatkan hatinya selama satu tahun, tapi ia tetap saja merasa takut saat bertemu dengan teman sekampusnya. Hanna tidak tahan dengan tatapan-tapan sinis mereka yang terus bergunjing tentangnya.

Sunday, August 24, 2014

[Book Review #25] The Chocolate Touch


Penulis: Laura Florand
Penerbit: Bentang Pustaka, 2014
Penerjemah: Veronica Sri Utami
Tebal: 351 halaman
ISBN: 6027888806
ISBN-13: 9786027888807
Harga buku: Rp 59.000,-
Rate: 4/5

Sungguh. Aku tak habis pikir kenapa Cade, kakak perempuanku harus ikut campur dalam urusan percintaanku? Ditambah lagi Sylvain, tunangannya juga ikut-ikutan melarangku berhubungan dengan Dominique. Alasannya, karena dia adalah seorang pesaing bisnis kafe cokelat. Oh, please….
Ya, ya, ya…. Aku memang kurus, lemah, dan tak berdaya. Sedangkan Dom besar, kokoh, dan kasar. Dia tidak selembut cokelat, melainkan sekasar tukang jagal. Tapi akulah yang lebih mengenal Dom, bukan kalian!
Jadi Cade dan Sylvain, berhentilah mencampuri urusan cintaku! Dan kau Dom, coba tunjukkan kau bisa membuat cokelat bayam untuk kakekku.

***

Jamie Corey, adik perempuan Cade Corey (The Chocolate Thief)  hampir setiap hari menghabiskan waktunya di kafe cokelat milik Domique Richard–salah satu pembuat cokelat paling top di Paris yang juga merupakan pesaing bisnis kafe Sylvain Marquis. 

Setelah kehadiran Jamie yang telah menjadi pelanggan setianya, Dom jadi memiliki kebiasaan baru. Dia selalu melihat Jamie secara diam-diam dan menantinya dari dapur cokelat miliknya yang berada di lantai atas. Tanpa Jamie ketahui, keantusiasannya saat memakan coklat itulah yang berhasil menarik perhatian Dom. Walaupun tubuh Jamie sangat kurus dan terlihat ringkih, tubuhnya dibalut dengan baju kedodoran, tapi Dom selalu menunggu kedatangan wanita itu di kafe miliknya. Satu hari saja Jamie tidak muncul di kafe Dom, lelaki itu langsung kelabakan dan mencarinya di antara lalu lalang di kawasan ramai di Paris.

Saturday, August 23, 2014

Review Komik Golongan Darah: Simple Thinking about Blood Type 2


Judul: Simple Thinking about Blood Type 2
Penulis: Park Dong Sun
Penerbit: Penerbit Haru
Genre: komik, pengembangan diri
Kategori: non fiksi, webtoon
Ukuran: 14x20 cm
Tebal: 308 halaman
Harga: Rp. 63.000
Terbit : Juli 2014
ISBN: 978 – 602 – 7742 – 32 – 1
Rate: 5/5

Blurb:
Pernahkah kamu merasa tidak diperhatikan oleh orang lain? Pernahkah kamu mendapat luka dari perkataan teman baikmu?
Itu semua karena setiap manusia memiliki sifat yang berbeda-beda. Dalam berinteraksi dengan orang lain, tidak ada salahnya kita  mencoba mengerti apa yang dirasakan oleh teman dekat ataupun orang lain yang belum kita kenal.
Nah, di komik Simple Thinking about Blood Type 2 ini, kamu akan menemukan bermacam-macam cerita terbaru dan sifat-sifat unik berdasarkan golongan darah.
Semoga komik ini bisa membantumu mencari jawaban yang selama ini dicari, ya. Semoga kamu juga dapat tersenyum saat membacanya. 

***

Bulan Juli datang dan itu artinya lanjutan komik Simple Thinking about Blood Type 1 sudah terbit!!! Yup, yup… komik Simple Thinking about Blood Type 2 kini sudah diterbitkan oleh Penerbit Haru. Buku besutan Park Dong Sun ini tetap sama seperti seri pertamanya yang mengusung komik golongan darah.

Sama seperti seri pertama, komik seri ke-2 ini tetap mampu membuat saya terbahak. Jika dibandingkan dengan komik golongan darah seri pertama, saya rasa isi komik seri ke-2 ini lebih padat. Semuanya diceritakan dalam beberapa bagian, mengingatkan saya pada fase kehidupan. Dimulai saat TK, sekolah, bahkan bekerja. Selain itu, seri ke-2 ini juga mengupas tentang kehidupan pribadi setiap golongan darah.

Monday, August 18, 2014

[Book Review #23] The Chocolate Kiss



Penulis: Laura Florand
Penerjemah: Veronica Sri Utami
Penerbit: Bentang Pustaka
Tebal: 456 halaman
ISBN: 6027888482
ISBN-13: 9786027888487
Harga: Rp 69.000,-           
Rate: 4/5              

Selamat datang di La Maison des Sorcieres. Kedai teh yang sangat terkenal di pulau Ile Saint-Louis, Paris. Bersama kedua bibi tercinta, di sinilah aku–Magalie Chaudron, tinggal untuk membesarkan kedai yang sangat mengesankan ini. 

Tapi semua kacau ketika Philippe Lyonnais–chef pastry terkenal di Paris, membuka toko cabangnya di dekat kedaiku. Dengan (sok) polosnya, ia tidak tahu bahwa ia telah melanggar teritori dan merebut pelanggan-pelangganku? Dan ditambah lagi lagaknya yang sombong, meremehkan semua resep menu spesial buatanku. Aarrgh .... Mungkin ini saatnya bendera perang kukibarkan.

***

Magalie Chaudron bersama kedua bibinya mengelola sebuah kedai teh kecil bernama La Maison des Sorcieres di Pulau ile Saint-Louis, tepat di jantung kota Paris. Berbeda dengan kedai teh lain, kedai teh Magalie mengusung tema penyihir dan cukup terkenal di kalangan masyarakat. Selain nuansa kedai yang berbeda, masih ada hal lain yang mampu menarik minat karena Magalie dan kedua bibinya selalu merapal “mantra” saat membuat minuman bagi para pelanggannya.

Eiit, tapi mantra yang dirapalkan oleh Magalie dan bibinya sebenarnya adalah doa dan harapan bagi para pelanggan mereka–tergantung karakteristik setiap pelanggan. Kedamaian kedai the La Maison des Sorcieres lenyap seketika saat Philippe Lyonnais muncul.

Sunday, August 17, 2014

[Book Review #22] The Chocolate Thief


Penulis: Laura Florand
Penerjemah: Veronica Sri Utami
Penerbit: Bentang Pustaka, 2013
Tebal: 414 halaman
ISBN: 6027888318
ISBN-13: 9786027888319
Harga: Rp 64.000,-
Rate: 4/5

Paris kota fashion, romantis, dan cokelat.
Namun, tidak untuk wanita Amerika sepertiku. Aku sudah tidak tahan lagi berjalan (sok) anggun dengan highheels ini. Menurutku, Paris juga bukan kota teromantis di dunia. Dan tolong catat, semua itu berawal dari Sylvain Marquis yang dengan sombongnya menolakku untuk bekerja sama.
Oh God! Apa dia tidak mengenaliku? Aku ini Cade Corey, pewaris tahta Corey Chocolate, perusahaan cokelat terbesar di Amerika. Oke, lihat saja... Memangnya hanya dia satu-satunya pembuat cokelat terbaik di dunia ini?!

***

Semua berawal saat Cade Corey–pewaris perusahan cokelat terbesar di Amerika, Corey Inc.–ingin turut berkontribusi untuk perusahan keluarganya  dengan membuat lini cokelat premium Paris. Demi memuluskan niatnya ini, Cade belajar bahasa Perancis sejak di bangku SMA hingga membuatnya fasih. Selain mempelajari bahasa Perancis, Cade juga mempelajari tentang coklat dan mencari tahu siapa saja chocolatier terbaik di dunia. Dan ternyata chocolatier itu berada di Paris, Sylvain Marquis. 

[Book Review #21] Paper Romance

Penulis: Lia Indra Andriana
Penerbit: Penerbit Haru, April 2013
Tebal: 376 hlm
ISBN: 978 – 602 – 7742 – 13 – 0
Rate: 3/5
 

 KEV MIRROW, PENULIS BESTSELLER PULANG KE INDONESIA DAN MENEMUKAN INSPIRASINYA KEMBALI DARI SEORANG WANITA!

To:
Arie@majalahStarIndonesia.com
Mengenai artikel yang Anda tulis, saya ingin meluruskan beberapa hal:
1.    Saya tidak pernah kehilangan ide menulis, saya hanya vakum menulis sementara.
2. Eliana Candra, cewek yang mengaku sebagai pacar saya sebenarnya adalah asisten saya. Namanya saya gunakan sebagai tokoh utama di novel terbaru saya karena saya ingin menghukumnya (saya tidak ingin membahasnya).
3.    Saya masuk ke rumah sakit karena kecelakaan mobil beruntun, bukan karena tidak konsentrasi saat menyetir!
Kev Mirrow membaca ulang email yang hendak ia kirim. Dahinya berkerut, ia berpikir keras. Lalu sambil mendengus ia menghapus semua hasil ketikannya, menggantinya dengan sebaris tulisan:

Terima kasih telah menepati janji Anda mengirimkan hasil wawancara. Tidak ada yang salah, Anda boleh memuatnya di majalah.
Kev Mirrow
***

Eli tidak tahu apakah nasib baik tengah berpihak padanya, atau telah berpaling darinya saat ia bertemu dengan Kev Mirrow, penulis novel best seller yang sedang berusaha menyelesaikan novel terbarunya, dan terpaksa menjadi asisten laki-laki itu.  

Thursday, August 14, 2014

[Book Review #20] The Miraculous Journey of Edward Tulane



Judul: The Miraculous Journey of Edward Tulane (Perjalanan Ajaib Edward Tulane)
Penulis: Kate DiCamillo
Penerjemah: Dini Pandia
Ilustrator: Bagram Ibatoulline
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama, Cetakan ke-2, April 2014
ISBN: 978-979-22-2487-0
Rate: 4/5

Dahulu kala, di rumah di Egypt Street, tinggallah kelinci porselen bernama Edward Tulane. Kelinci itu sangat bangga pada dirinya sendiri, dan memang beralasan: ia dimiliki anak perempuan bernama Abilene, yang memperlakukannya dengan penuh kasih dan amat sangat menyayanginya.
Lalu. Suatu hari, ia hilang.
Maka dimulailah perjalanan luar biasa Edward Tulane: dari dasar laut kejala nelayan, dari puncak gunung sampah ke dekat api unggun gelandangan, dari tempat tidur anak yang sakit keras ke jalan-jalan kota Memphis. Dan selama perjalanannya itu ia jadi tahu –bahwa hati yang paling rapuh sekalipun dapat belajar menyayangi, kehilangan, dan menyayangi lagi.

***

Edward Tulane, boneka kelinci jangkung yang seluruh bagian tubuhnya–lengan, kaki, tangan, kepala, badan, dan hidung–terbuat dari porselen. Telinganya terbuat dari bulu kelinci asli, dan matanya dicat berwarna biru yang tajam dan cerdas. Pemiliknya adalah Abilene Tulane–seorang anak perempuan berumur 10 tahun–yang sangat menyayanginya, bahkan memperlakukannya seolah-olah hidup. Hingga Abilene Tulane sering mendandaninya dengan baju-baju bagus, lalu Edward didudukkan di sebuah kursi yang menghadap jendela dengan sebuah jam bandul di dekatnya, sampai Abilene pulang sekolah. 

Sunday, August 10, 2014

[Book Review #19] Spring in London


Penulis: Ilana Tan
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 240 halaman 
ISBN-13: 978-979-22-5376-4
Rate: 3/5


Gadis itu tidak menyukainya. Kenapa?

Astaga, ia—Danny Jo—adalah orang yang baik. Sungguh! Ia selalu bersikap ramah, sopan dan menyenangkan. Lalu kenapa Naomi Ishida menjauhinya seperti wabah penyakit? Bagaimana mereka bisa bekerja sama dalam pembuatan video musik ini kalau gadis itu mengacuhkannya setiap saat? Kesalahan apa yang sudah dia lakukan?

Bagaimanapun juga Danny bukan orang yang gampang menyerah. Ia akan mencoba mendekati Naomi untuk mencari tahu alasan gadis itu memusuhinya.

Tetapi ada dua hal yang tidak diperhitungkan Danny. Yang pertama adalah kemungkinan ia akan jatuh cinta pada Naomi Ishida yang dingin, misterius, dan penuh rahasia itu. Dan yang kedua adalah kemungkinan ia akan menguak rahasia gelap yang bisa menghancurkan mereka berdua dan orang-orang yang mereka sayangi.
***

Jo In Ho yang dikenal sebagai Danny Jo, merupakan model terkenal di Korea dan kini diminta untuk membintangi sebuah video musik Jung Tae Wo, sahabatnya. Dalam pembuatan video musik itu Danny Jo memiliki lawan main yang bernama Naomi Ishida, seorang model terkenal di Jepang. Tempat yang dipilih untuk menjadi lokasi pembuatan video musik itu adalah London. Selama proses pembuatan video musik Danny Jo merasa penasaran karena Naomi selalu menjauhinya. Tanpa Danny Jo ketahui, sebenarnya Naomi memiliki trauma masa lau yang berkaitan dengannya.  

[Book Review #18] Winter in Tokyo


Penulis: Ilana Tan
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama,
Tebal: 313 halaman
ISBN-13: 978-979-22-3983-6
Rate: 5/5

Tetangga baruku, Nishimura Kazuto, datang ke Tokyo untuk mencari suasana yang berbeda. Itulah katanya, tapi menurutku alasannya lebih dari itu. Dia orang yang baik, menyenangkan, dan bisa diandalkan.
Perlahan-lahan–mungkin sejak malam Natal itu–aku mulai memandangnya dengan cara yang berbeda. Dan sejak itu pula rasanya sulit membayangkan hidup tanpa dia.

Keiko tentang Kazuto


Sejak awal aku sudah merasa ada sesuatu yang menarik dari Ishida Keiko. Segalanya terasa menyenangkan bila ada dia. Segalanya terasa baik bila dia ada. Saat ini di dalam hatinya masih ada seseorang yang ditunggunya. Cinta pertamanya. Kuharap dia bisa berhenti memikirkan orang itu dan mulai melihatku. Karena hidup tanpa dirinya sama sekali bukan hidup.

Kazuto tentang Keiko


Mereka pertama kali bertemu di awal musim dingin di Tokyo. Selama sebulan bersama, perasaan baru pun terbentuk. Lalu segalanya berubah ketika suatu hari salah seorang dari mereka terbangun dan sama sekali tidak mengingat semua yang terjadi selama sebulan terakhir, termasuk orang yang tadinya sudah menjadi bagian penting dalam hidupnya....

***

Semua bermula saat Keiko memiliki tetatangga baru di apartemen kecil tempatnya tinggal. Tetangga barunya bernama Kazuto, seorang fotografer terkenal di New York yang mencari suasana baru Tokyo. Sebenarnya alasan Kazuto ke Tokyo adalah untuk menjauhi seseorang, seorang wanita yang ia sukai tapi wanita itu akan menikah dengan sahabatnya.

Thursday, August 07, 2014

[Book Review #17] Autumn in Paris


Penulis: Ilana Tan
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 272 halaman
ISBN: 9792230300
Rating: 4/5
 

Tara Dupont menyukai Paris dan musim gugur. Ia mengira sudah memiliki segalanya dalam hidup… sampai ia bertemu Tatsuya Fujisawa yang susah ditebak dan selalu membangkitkan rasa penasarannya sejak awal.

Tatsuya Fujisawa benci Paris dan musim gugur. Ia datang ke Paris untuk mencari orang yang menghancurkan hidupnya. Namun ia tidak menduga akan terpesona pada Tara Dupont, gadis yang cerewet tapi bisa menenangkan jiwa dan pikirannya… juga mengubah dunianya.

Tara maupun Tatsuya sama sekali tidak menyadari benang yang menghubungkan mereka dengan masa lalu, adanya rahasia yang menghancurkan segala harapan, perasaan, dan keyakinan. Ketika kebenaran terungkap, tersingkap pula arti putus asa… arti tak berdaya…

Kenyataan juga begitu menyakitkan hingga mendorong salah satu dari mereka ingin mengakhiri hidup...

Seandainya masih ada harapan–sekecil apa pun –untuk mengubah kenyataan, ia bersedia menggantungkan seluruh hidupnya pada harapan itu…
***

Tara Dupont, gadis blasteran Perancis-Indonesia yang sangat menyukai musim gugur. Tara bekerja sebagai seorang penyiar radio dan tinggal di Perancis bersama dengan ayahnya, Jean Daniel Dupont. Suatu waktu Sebastian Giraudeau, memperkenalkannya dengan Tatsuya Fujisawa, seorang arsitek muda dari Jepang yang merupakan rekan kerja dalam proyek milik ayah Sebastian.

[Book Review #16] Summer in Seoul


Penulis: Ilana Tan
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 280 halaman
ISBN: 9792224602
ISBN-13: 978-979-22-2460-3
Rating: 4/5



Jung Tae-Woo—penyanyi muda terkenal Seoul yang muncul kembali setelah empat tahun menghindari dunia showbiz.
"Aku hanya ingin memintamu berfoto denganku sebagai pacarku," kata Jung Tae-Woo pada gadis di hadapannya.
Sandy alias Han Soon-Hee—gadis blasteran Indonesia-Korea yang sudah mengenali Jung Tae-Woo sejak awal, namun sedikit pun tidak terkesan.
Sandy mengangkat wajahnya dan menatap laki-laki itu, lalu berkata, "Baiklah, asalkan wajahku tidak terlihat."
Awalnya Jung Tae-Woo tidak curiga kenapa Sandy langsung menerima tawarannya. Sementara Sandy hanya bisa berharap ia tidak akan menyesali keputusannya terlibat dengan Jung Tae-Woo. Hari-hari musim panas sebagai "kekasih" Jung Tae-Woo dimulai. Perubahan rasa itu pun ada. Namun keduanya tidak menyadari kebenaran kisah empat tahun lalu sedang mengejar mereka.
***

"Sudah lama tidak melihatmu. Kau tahu, aku hampir melupakan wajahmu. Kalau aku sampai lupa bagaimana wajahmu, aku tidak bakal bisa melakukan apa pun lagi. Kau tahu kenapa? Karena aku akan terlalu sibuk berusaha mengingat wajahmu sampai-sampai tidak mampu memikirkan masalah lain."

Han Soon Hee atau Sandy, merupakan gadis berdarah Indonesia-Korea dan tercatat sebagai mahasiswi tingkat tigas di salah satu universitas di Seoul, kini harus berurusan dengan Jung Tae Woo–seorang penyanyi muda terkenal.