Pages

Thursday, August 07, 2014

[Book Review #16] Summer in Seoul


Penulis: Ilana Tan
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 280 halaman
ISBN: 9792224602
ISBN-13: 978-979-22-2460-3
Rating: 4/5



Jung Tae-Woo—penyanyi muda terkenal Seoul yang muncul kembali setelah empat tahun menghindari dunia showbiz.
"Aku hanya ingin memintamu berfoto denganku sebagai pacarku," kata Jung Tae-Woo pada gadis di hadapannya.
Sandy alias Han Soon-Hee—gadis blasteran Indonesia-Korea yang sudah mengenali Jung Tae-Woo sejak awal, namun sedikit pun tidak terkesan.
Sandy mengangkat wajahnya dan menatap laki-laki itu, lalu berkata, "Baiklah, asalkan wajahku tidak terlihat."
Awalnya Jung Tae-Woo tidak curiga kenapa Sandy langsung menerima tawarannya. Sementara Sandy hanya bisa berharap ia tidak akan menyesali keputusannya terlibat dengan Jung Tae-Woo. Hari-hari musim panas sebagai "kekasih" Jung Tae-Woo dimulai. Perubahan rasa itu pun ada. Namun keduanya tidak menyadari kebenaran kisah empat tahun lalu sedang mengejar mereka.
***

"Sudah lama tidak melihatmu. Kau tahu, aku hampir melupakan wajahmu. Kalau aku sampai lupa bagaimana wajahmu, aku tidak bakal bisa melakukan apa pun lagi. Kau tahu kenapa? Karena aku akan terlalu sibuk berusaha mengingat wajahmu sampai-sampai tidak mampu memikirkan masalah lain."

Han Soon Hee atau Sandy, merupakan gadis berdarah Indonesia-Korea dan tercatat sebagai mahasiswi tingkat tigas di salah satu universitas di Seoul, kini harus berurusan dengan Jung Tae Woo–seorang penyanyi muda terkenal.

Wednesday, August 06, 2014

[Book Review #15] Love, Curse & Hocus-Pocus


Penulis: Karla M. Nashar
Penerbit:
Gramedia Pustaka Utama, Cetakan Pertama, 2013
Tebal:
416 halaman
ISBN:
978-979-22-8976-3
Rating: 4/5

“And what would you do, if I told you I have no intention to kiss you?”
“Kurasa... aku akan membuatmu mengubah keputusanmu itu.”

Ketika Troy Mardian dan Gadis Parasayu yang saling membenci harus terbangun dalam keadaan bugil dengan memori kabur akan pernikahan mereka, reaksi pertama mereka adalah berteriak histeris. Mereka curiga jika semua keanehan itu berkaitan dengan wanita gipsi tua yang mereka tertawai pada acara ulang tahun kantor mereka.

Untunglah mimpi dan realita yang tumpang tindih mempermainkan akal sehat mereka itu segera berakhir, dan membawa mereka kembali ke dunia nyata. Kali ini Troy dan Gadis yakin semua keanehan yang mereka alami itu telah berakhir. Setidaknya demikian, hingga tugas kantor membawa mereka ke negara para Duke dan Duchess, Inggris.

Dalam penerbangan yang melewati turbulensi ekstrem dan nyaris merenggut nyawa, keduanya dipaksa berpikir ulang tentang perasaan masing-masing.

Meskipun mereka saling membenci sejak pandangan pertama, mungkinkah berbagai peristiwa aneh tersebut justru mengubah rasa tidak suka mereka menjadi cinta?

Dan ketika Troy dan Gadis mengira hidup mereka sudah mencapai puncak kebahagiaan tertinggi, nun jauh di sana, sayup-sayup suara gemerencing lonceng perak kecil milik si gipsi misterius kembali membelah pekatnya malam...

Lalu apa kira-kira yang akan terjadi pada Troy dan Gadis kali ini?

Cring... cring... cring...
Beware!
***

Ada rasa kehilangan yang dirasakan Troy saat ia bangun pagi dan tidak menemukan kehadiran Gadis di sekitarnya. Walaupun mereka terombang-ambing antara dunia nyata dan dunia mimpi, dan dibuat pusing karenanya. Tapi Troy akui jika ia sebenarnya sedikit berharap ‘kejadian aneh’ itu terulang kembali.

Tuesday, August 05, 2014

[Book Review #14] Love, Hate & Hocus-Pocus


Penulis: Karla M. Nashar
Penerbit:
Gramedia Pustaka Utama, Cetakan Pertama, 2008
Tebal:
264 halaman
ISBN:
9789792238006
Rating: 4/5 

Hate at first sight. Itulah definisi yang tepat untuk menggambarkan Troy Mardian dan Gadis Parasayu. Mereka partner kerja yang dinamis––sedinamis gejolak permusuhan yang terus meletup di antara mereka berdua. 

Menurut Gadis, Troy Mardian adalah contoh sempurna tipe manusia yang tercabut dari akarnya. Jelas-jelas asli Indonesia, kok pakai bertingkah ala bule? Rambut dicokelatin, ngomong bahasa Inggris, barang-barang harus label desainer, dan mati-matian mempertahankan imej metroseksual biar tetap bisa menyandang gelar The Most Eligible Bachelor in Indonesia.  

Sedangkan menurut Troy, Gadis Parasayu (atau Paras Ayu) adalah nama terkonyol yang pernah didengarnya. Di Amerika tempat Troy dibesarkan, nggak ada orangtua yang cukup gila menamai anak mereka dengan Beautiful Face Girl. Narsis sekali! Okelah, wajahnya memang eksotis plus lekuk bodi bak JLo, tapi masa sih suka banget pakai merek lokal? 

Hanya satu persamaan mereka. Sama-sama nggak percaya hocus-pocus, ramal-meramal, paranormal, astrologi, atau apa pun yang berhubungan dengan dunia pernujuman. 

Lalu apa yang terjadi saat mereka terbangun pada suatu Minggu pagi cerah, dan mendapati diri mereka berada di ranjang yang sama dalam kondisi bak Adam dan Hawa saat pertama kali terdepak dari Firdaus––bugil, plus cincin kawin yang melingkari jari manis masing-masing, serta memori samar tentang pernikahan yang mereka lakukan tiga belas hari yang lalu?!
***

Gadis Parasayu yang bekerja di sebuah perusahaan farmasi akhirnya bisa bertemu dengan Troy Mardian–cowok yang punya gelar The Most Eligible Bachelore in Indonesia, yang juga sangat digilai oleh perempuan-perempuan teman sekantornya–saat dia dipindah tugaskan ke kantor pusat di Jakarta.

Thursday, July 31, 2014

[Book Review #13] London: Angel


Penulis: Windry Ramadhina
Penerbit:
GagasMedia, Cetakan Pertama, 2013
Tebal: 330 halaman
ISBN: 979-780-653-7
Rating: 4/5                            

Pembaca Tersayang,
Mari berjalan di sepanjang bantaran Sungai Thames, dalam rintik gerimis dan gemilang cahaya dari London Eye.
Windry Ramadhina, penulis novel Orange, Memori, dan Montase mengajak kita menemani seorang penulis bernama Gilang mengejar cinta Ning hingga ke Fitzrovia. Namun, ternyata tidak semudah itu menyatakan cinta. Kota London malah mengarahkannya kepada seorang gadis misterius berambut ikal. Dia selalu muncul ketika hujan turun dan menghilang begitu hujan reda. Sementara itu, cinta yang dikejarnya belum juga ditemukannya. Apakah perjalanannya ini sia-sia belaka?
Setiap tempat punya cerita.
Dalam dingin kabut Kota London, ada hangat cinta menyelusup.

Enjoy the journey,
EDITOR
***
Gilang, seorang aspiring novelist yang tanpa ia sadari telah lama memendam cinta kepada teman masa kecilnya, Ning–yang tinggal di sebelah rumahnya. Dia tidak pernah menyangka jika acara kumpul-kumpul bersama temannya pada malam  itu akan membuatnya melakukan sebuah ide gila. Saat itu Gilang dan keempat temannya menghabiskan malam minggu dengan minum-minum di Bureau, Pondok Indah. Dalam kondisi mabuk, Gilang menerima tantangan yang dilontarkan oleh keempat temannya. Menyusul Ning ke London.  

[Book Review #12] The Chronicles of Audy: 21


Penulis: Orizuka
Penerbit: Penerbit Haru, Cetakan pertama, Juli 2014
Tebal: 308 halaman
ISBN: 602–774–237-2
Rating: 4,5/5

Hai. Namaku Audy.
Umurku masih 22 tahun.
Hidupku tadinya biasa-biasa saja
sampai aku memutuskan untuk bekerja di rumah 4R.

Aku sempat berhenti,
tapi mereka berhasil membujukku untuk kembali
setelah memberiku titel baru: “bagian dari keluarga”.

Di saat aku merasa semakin akrab dengan mereka,
pada suatu siang, salah seorang dari mereka
mengungkapkan perasaannya kepadaku.

Aku tidak tahu harus bagaimana.

Lalu, seolah itu belum cukup mengagetkan,
terjadi sesuatu yang tidak pernah
terpikirkan siapa pun.

Ini, adalah kronik dari kehidupanku
yang semakin ribet.

Kronik dari seorang Audy.
***
Di bagia akhir buku pertama, Audy berhenti bekerja di rumah 4R setelah kedua orangtuanya datang dan menjemputnya. Mereka memaksanya untuk keluar dari rumah itu karena mereka akan berusaha membiayai Audy. Awalnya Audy tak menyangka jika 4R membiarkannya pergi begitu saja tanpa mencoba menahannya. Tapi ia tak pernah menyangka jika 4R akan muncul pagi-pagi di depan pintu kamar hotel tempat ia dan kedua orantuanya menginap. Regan, sebagai anak tertua memulai obrolan dengan ayahnya, dan dia berhasil meyakinkan kedua orangtua Audy agar gadis itu tetap bisa tinggal bersamaa mereka karena mereka sudah menganggap Audy adalah bagian dari keluarga.

[Book Review #11] Melbourne: rewind


Penulis: Winna Efendi
Penerbit: Gagas Media, 2013
Tebal:
328 halaman
Rating: 4,5/5

You can meet someone who’s just right, but he might not be meant for you. You break up, you lose things, you never feel the same again. But maybe you should stop questioning why. Maybe you should just accept it and move on.

Maximilian Prasetya, seorang light addict yang bertemu dengan Laura Winardi gara-gara dia menemukan walkman jadul di counter Lost and Found di kampusnya. Max tidak mengira jika walkman jadul itu masih dicari pemiliknya. Akhirnya mereka berdua pun menjadi dekat dan Laura menjadi teman nongkrong di Prudence, coffee shop favorit Max.

Wednesday, July 16, 2014

[Book Review #10] Athena: Eureka!


Penulis: Erlin Natawiria
Penerbit: GagasMedia, Cetakan Pertama, Desember 2013
Tebal: 284 halaman
ISBN:
978-979-780-671-2
Rating: 2/5

Pembaca tersayang,
Langkahkan kakimu ke kota sang dewi kebijaksanaan, Athena. Dari penulis debut Gagasmedia, Erlin Natawiria, kita akan mengikuti Widha mewujudkan impian masa kecilnya serta mendiang kakaknya yang kembar.
Satu insiden kecil di losmen mempertemukan Widha dengan Nathan. Mereka menjadi rekan seperjalanan; menyusuri Agora, Plaka, lalu ikut larut dalam keriaan sepasang pengantin baru di Rafina. Rasa bertumbuh seiring kaki-kaki mereka melangkah, dan binar tepercik setiap kali keduanya berserobok pandang.
Namun, di sebuah kios buku kuno di Monastiraki, Widha melihat hantu masa lalunya. Seseorang yang tidak seharusnya hadir di kota impiannya. Sosok yang gagal dia lupakan.

Setiap tempat punya cerita,
Di antara puing-puing kuil Parthenon, ada reruntuhan hati yang siap dibangun kembali.

Salam,
Editor
***
Widha, seorang mahasiswa yang mengumpulkan semua uang beasiswa dan honornya sebagai jurnalis agar dapat pergi ke Athena. Tempat yang ia idamkan sejak kecil, dan untuk memenuhi mimpi mending kakak kembarnya.