Pages

Monday, July 14, 2014

[Book Review #5] Bellamore: A Beautiful Love to Remember




Penulis: Karla M. Nashar
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama, Cetakan ketujuh, Juni 2012
Tebal: 264 halaman
ISBN: 978–979–22-2974-5
Rating: 3,5/ 5

Sinopsis:
“But what do you do if you get horny?”
Demi Zeus dan para dewa Yunani lainnya!!! What is it with this man?!!
Pria dihadapanku ini, yang kukenal belum sampai sebulan, bukan pacarku, bukan sahabatku, tidak juga punya hubungan darah apa pun denganku, hanya rekan bisnis, tapi ingin tahu apa yang kulakukan jika libidoku sedang naik?!?!?!
He’s got to be kidding me!!!!

Awalnya nama Fabian Ferdinandi bagiku sama artinya dengan kejengkelan tak berujung. Pria Italia itu sangat tahu bagaimana membuat seluruh sarafku menegang cepat dan membuat setiap percakapan kami berakhir dengan kemarahan di pihakku. Namun yang paling menyebalkan adalah, Fabian sangat tahu bagaimana membuatku tampak seperti alien karena di usiaku yang sudah 27 tahun ini, aku memutuskan untuk tetap mempertahankan virginity-ku. Sesuatu yang menurutnya sangat absurd untuk wanita seperti aku.
Setidaknya begitulah. Sampai akhirnya waktu memisahkan dan mempertemukan kami lagi pada suatu pagi yang beku di Time Square. Namun seiring musim berganti di New York, aku pun harus menghadapi kenyataan mengejutkan tentang Fabian. Dan perasaanku sendiri terhadapnya.
***

Review:
Entah sudah keberapa kalinya Lana putus dengan pacarnya karena prinsip yang selalu dipegang olehnya. Lana berprinsip bahwa dia tidak akan ‘bobo bareng’ dengan laki-laki manapun, walaupun pacarnya sendiri, sebelum mereka resmi menikah. Hingga suatu waktu, karena urusan pekerjaannya, Lana bertemu dengan Fabian. Seorang pria Italia yang dengan waktu singkat sudah digilai oleh perempuan-perempuan di kantornya. Bahkan karena keberadaan Fabian yang selalu berkeliaran di dekat Lana, membuat wanita muda itu selalu mendapatkan tatapan menggoda dari seluruh teman sekantornya.


Berada di dekat Fabian selalu berpotensi membuat Lana darah tinggi. Bagaimana tidak, pria Italia itu selalu melontarkan pertanyaan-pertanyaan yang menyulut emosi Lana. Apalagi setelah tahu tentang ke-virginity-an Lana, Fabian semakin sering menggodanya. Tidak aneh jika Lana menganggap bahwa yang ada diotak pria itu hanya seks. Tiada pertemuan tanpa beradu argument membicarakan prinsip Lana, tapi tanpa mereka sadari itu semua telah membuat mereka dekat. Hingga Fabian pergi meninggalkan Lana dalam kebimbangan akan perasaannya sendiri.

Waktu kembali mempertemukan mereka. Saat Lana mengikuti training di New York, tanpa diduga dia bertemu dengan Fabian. Namun sosok Fabian yang ia temui sangat berbeda dengan sosok Fabian yang ia kenal saat di Jakarta.
Some things better left unspoken
Kini Fabian terlihat seperti menanggung beban berat, dan setelah bersusah payah akhirnya Lana tahu apa yang dirahasiakan pria itu. Membuatnya ingin selalu bertahan di samping Fabian, walaupun pria itu menolak.
And please promise me one thing–promise me
that you’ll find your own true love no matter what happen. Be with him, Lana. Be happy for me.
Arrivederci amore mio… (goodbye, my love)
Son tuo sempre (I’m yours always)
Yeay!!! Yeay!!! Akhirnya saya dapet buku ini juga >< setelah sekian lama mencari di setiap toko buku yang saya sambangi. Dulu, duluuu sekali… sebenarnya saya sudah mau beli buku ini, tapi ngga jadi dan saya menyesal. Karena itu, motto saya yang baru adalaaaah belilah buku yang dimau jika stock-nya tinggal sedikit. Aduh, maaf curcol :P

Cover bukunya sangat sederhana. Dengan warna dasar putih dan warna baby pink pada setiap sisi mampu membingkai buku ini dengan manis. Ditambah dengan gambar cupid yang sedang mengangkat panah cintanya.

Saya sangat suka sosok Fabian. Walaupun gila dan semua argumennya itu bikin emosi, tapi sebenarnya dia sosok yang hangat. Buku ini membuat saya terharu sekaligus terkesan. Terharu karena nasib Fabian dengan segala ketulusannya, dan terkesan karena Lana merupakan sosok yang kuat tanpa dibuat terlalu banyak embel-embel.
Yang saya sayangkan, saya merasa hubungan Lana dan Danny begitu terasa mudah. Kenapa? Kenapa oh kenapa? Tapi saya salut atas sikap Danny pada Fabian.Satu hal yang dapat diambil dari buku ini, bahwa cinta sejati tidak selalu harus saling memiliki.

No comments:

Post a Comment