Pages

Wednesday, July 16, 2014

[Book Review #9] Roma: Con Amore


Penulis: Robin Wijaya
Penerbit: GagasMedia, Cetakan Pertama, 2013
Tebal: 319 halaman
ISBN: 979-780-614-9
Rating: 4/5 

Pembaca tersayang,
Banyak jalan menuju Roma. Banyak cerita berujung cinta.
Robin Wijaya, penulis novel Before Us dan Menunggu mempersembahkan cerita cinta dari Kota Tujuh Bukit.
Lenardo Halim, pelukis muda berbakat Indonesia, menyaksikan perempuan itu hadir. Sosok yang datang bersama cahaya dari balik sela-sela kaca gereja Saint Agnes. Hangatnya menorehkan warna, seperti senja yang merekah merah di langit Kota Roma.
Namun, bagaimana jika ia juga membawa luka?
Leo hanya ingin menjadi cahaya, mengantar perempuan itu menembus gelap masa lalu. Mungkinkah ia percaya?
Sementara sore itu, di luar ruang yang dipenuhi easel, palet, dan kanvas, seseorang hadir untuk rindu yang telah menunggu.
Setiap tempat punya cerita.
Roma seperti sebuah lukisan yang bicara tanpa kata-kata.

Enjoy the journey,
Editor
***
Leonardo Halim, seorang seniman muda Indonesia yang karyanya patut diperhitungkan di dunia internasional. Ia mendapat kesempatan untuk ikut pameran seni di Roma, Italia. Bahkan salah satu lukisannya yang berjudul Tedak Siten terjual di pameran tersebut. Tapi masalahnya si pembeli mengatakan bahwa lukisan tersebut belum sampai ke tangannya–padahal kurir sudah mengirim ke alamat yang sesuai.  Tapi berkat masalah inilah Leo bertemu dengan Felice Patricia, seorang perempuan Indonesia yang ada di Roma. 


Pertemuan pertama mereka tidak berjalan menyenangkan. Meskipun sebenarnya yang melakukan kesalahan adalah Felice, tapi perempuan itu sama sekali tidak mau mengakuinya dan meminta maaf. Meninggalkan kesan pertama yang tidak begitu baik. Setelah proyek pameran seni di Roma selesai, Leo pun kembali ke Indonesia. Menghabiskan kesehariannya dengan Marla, pacarnya, yang selalu memperhatikannya. Tak lama berselang, salah satu sahabatnya menawari Leo untuk mengikuti sebuah pameran seni di Bali.

Berbeda dengan Leo yang kembali ke Indonesia, Felice melanjutkan kehidupannya di Italia. Franco, pacar Felice, merupakan seorang pemain sepakbola. Sosok yang sangat mencintainya dan sering menghujaninya dengan gombalan-gombalan yang manis. Felice akan segera berpulang ke Indonesia untuk menghadiri pernikahan kakaknya, Anna. Awalnya dia sempat ragu untuk pulang, karena tidak ingin bertemu ibu-nya. Hubungan mereka renggang dan semakin memburuk sejak ibu-nya menjalin hubungan dengan laki-laki beristri. Namun demi Anna, Felice memaksakan diri dan tetap berangkat ke Bali.

Seperti dugaan Felice, ia pasti tidak akan bisa bertemu dengan ibu-nya tanpa ada pertengkaran sama sekali. Membuatnya pergi meninggalkan tempat acara, tanpa mempunyai tujuan pasti. Berbekal selembar brosur, Felice memutuskan ke sebuah pameran seni di Taman Budaya. Saat berkeliling melihat lukisan, hanya nama Leonardo Halim lah yang dikenalnya. Tanpa sengaja mereka kembali bertemu lagi, tapi kali ini percakapan mengalir dengan sendirinya diantara mereka.

Lagi-lagi mereka berpisah, dan lagi-lagi mereka dipertemukan di Roma. Tanpa mereka sadari, tumbuh benih-benih cinta diantara mereka. Tapi masih banyak sekali masalah yang harus diselesaikan di sekitar mereka. Tentang Franco, masalah Felice dengan ibu-nya yang tak kunjung selesai, juga tentang Marla, pacar Leo, yang belum diketahui Felice.
***

Hallooo… Ini pertama kalinya saya membaca buku karya Robin Wijaya. Sudut pandang yang digunakan adalah sudut pandang orang ketiga. Saya sangat menyukai alur ceritanya, dan kebetulan-kebetulan yang terjadi dalam buku ini masih dalam taraf normal, tidak berlebihan dan terasa mengalir. Tema yang diangkat sama seperti yang ada pada STPC lainnya, mengusung tema tentang percintaan, tapi di buku ini juga diselipi tentang konflik sebuah keluarga.

Kesan pertama untuk Felice, dia terlihat angkuh dan sama sekali tidak mau mengakui kesalahannya. Sedangkan Leo sesuai dengan karakter yang ada dalam pikiran saya, sosok yang cool dengan pembawaannya yang tenang.

Saya selalu mengagumi orang-orang yang memilih setting tempat di luar negeri, karena mereka harus mampu mendeskripsikan tempat tersebut sekaligus menyuguhkan interaksi yang ada antara tokohnya dengan baik dan mampu memikat pembaca. Menurut saya, di beberapa bagian terdapat hal yang terlalu banyak penjelasan mengenai tempat yang dikunjungi tanpa ada interaksi antara Felice dan Leo yang membuat sangat greget.

Saya merasa cukup puas saat membaca buku karya Robin Wijaya ini. Sangat manis dan terasa sangat mengalir. Setiap orang pasti memiliki tokoh favorit dalam setiap buku yang mereka baca. Dan dalam buku ini, saya sangat menyukai karakter Felice J karakter Marla juga sangat memorable bagi saya. 


Diikutkan dalam:
- IRRC 2014
- Young Adult Challange 2014

No comments:

Post a Comment